Abi ingin mengajak dua istrinya untuk mengunjungi tanah suci mekkah,maka undian pun dilaksanakan,dengan melipat kertas yang di dalam sudah tertera nama kita bertiga, aku, maduku dinda,dan maduku dek lirna.
Ketiga lipatan kertas itu kami masukkan kedalam botol lalu kita kocok, dan mengeluarkan dua kertas dari dalam nya. kemudian kami buka lipatan kedua kertas itu,ada namaku dan nama maduku dinda.
“Aku ngidam,pingin ketanah suci .” ucap maduku dek lirna
“Kalau begitu dek lirna aja yang berangkat,biar aku yang dirumah ngurus anak-anak” jawab maduku dinda.
“dinda… kan yang keluar nama dinda?.” bantahku.
“yunda,, gak apa-apa, kasian janin dek lirna.
semoga janin yunda dan dek lirna kelak nanti jadi anak shalih atau shalihah yang patuh kepada kedua orang tuanya dan agamanya ,, Aamiin Ya Rabb.”
Aku masih ingat senyum itu terus mengembang diantara bibir maduku dinda,tulus nya kata-kata yang Ia ucapkan,menyejukkan jiwaku hingga rasa iba mulai menyergap relung hatiku.
Akhirnya Aku,Abi dan madu ku dek lirnah lah yang berangkat ketanah suci.
Di tanah suci wajah maduku dinda seperti hantu yang terus membuntutiku,selama ini aku menjadi madu yang terjahat bagi dirinya,aku tidak bisa menjadi penopang yang membuat dia nyaman ,selalu saja kusakiti hatinya,sungguh hatinya penuh dengan goresan-goresan luka yang menyayat,sekali lagi dia tidak pernah membalas ,dia hanya diam, diam dan diam.
Apalagi akhir-akhir ini suami juga jarang sekali memperhatikan maduku dinda.
aku berhujjah agar bisa membantu perekonomian keluarga dia. sebetulnya suamiku enggan untuk menikah lagi,dua sudah cukup baginya,tapi aku terus memaksa suami ku untuk menikahi lirna ini. Dari dulu suamiku tidak pernah


EmoticonEmoticon